Nama diurutan terakhir
Dua makalah ilmiah telah tercatat dalam dua event pertemuan ilmiah tingkat nasional di tahun 2008. Alhamdulillah. Target tahun ini telah terpenuhi. Seperti biasa, nama lengkap saya selalu menghiasi makalah di urutan terakhir, di belakang empat nama peneliti muda yang pantang menyerah yang tergabung grup riset aplikasi H8. Peletakan nama di urutan terakhir merupakan 'tradisi ilmiah Jepang' yang saya anut sampai sekarang. Namun catatan ini tidak dimaksudkan untuk membahas tata letak urutan nama authors, melainkan ia dibuat untuk membentangkan suatu bukti bahwa ketekunan adalah jalan yang terpercaya mengantarkan siapa saja menuju pada keberhasilan.
Grup riset H8 lahir pada akhir tahun 2006. Ia mengusung suatu tujuan yaitu memperkenalkan aplikasi mikrokontroler 16 bit kepada mahasiswa. Ketika itu, hanya dua orang mahasiswa yang serius bergabung. Padahal ada lebih dari 300 mahasiswa belajar disini. Tapi seperti kata-kata mutiara, jangan silau oleh jumlah yang besar, maka grup ini terus melangkah tekun menuju takdirnya. Hasil pun dicapai. Pada tahun 2007, muncul satu makalah dari grup ini dan telah dipresentasikan di event ilmiah nasional. Penulis pertamanya adalah mahasiswa yang baru lulus S1. Di tahun 2008, alhamdulillah meningkat menjadi dua makalah. Keduanya pun ditampilkan pada event ilmiah nasional pula. Penulis pertamanya juga fresh graduate dari S1. Dari satu makalah menjadi dua makalah adalah bukti ketekunan.
Bagaimana rencana capaian target untuk tahun 2009?
Insya Allah akan muncul empat makalah yang siap tampil pada publikasi nasional. Dua diantaranya akan ditulis oleh peneliti muda yang belum lulus S1. Mereka akan menempati nama pertama pada makalah mereka masing-masing, sementara nama saya akan tetap diurutan terakhir.
Tunggu dulu! Bukankah masih tersisa waktu lima bulan sebelum tahun 2008 berakhir? Barangkali satu makalah lagi bisa dipublikasikan di level nasional dipenghujung 2008. Amiin insya Allah.
--(20080801)--
Bukan saya dalang-nya
Jangan katakan kesuksesan ini didalangi oleh saya. Itu sama sekali tidak benar. Mereka sudah pintar dari sono nya. Terbukti mereka mampu belajar cepat dan paham, yang akhirnya berhasil mengantarkan mereka ke posisi nomor satu dan dua dari puluhan pesaingnya se Jawa Barat.
Sementara saya, tak lebih dari sekedar teman belajar mereka, yang sekaligus ikutan belajar. Karena pada dasarnya, wawasan kebumian saya sangatlah sempit. Justru perluasan wawasan terjadi pada momen itu. Saya jadi tahu macam-macam tekstur batuan beku, transportasi batuan sedimen, pembentukan batuan metamorf, karakteristik dan kelas-kelas mineral, mengenal Bowen series serta logikanya, mendalami geologi struktur, proses tektonik dan vulkanik dan banyak lagi. Menariknya, pendalaman pengetahuan tadi justru terjadi ketika saya ikut belajar bareng bersama teman-teman berseragam putih abu-abu itu.
Kenapa ngga pas dulu-dulu waktu di bangku kuliah?
Mengapa baru sekarang itu terjadi?
Jawabannya adalah keterpaksaan. Terus-terang, saya lebih senang belajar fisika bersama-sama mereka dari pada belajar ilmu kebumian. Karena latar belakang saya adalah fisika. Namun sekolah mereka meminta saya menemani mereka belajar ilmu kebumian. Suatu ilmu yang ketika itu sangat tidak saya kuasai. Dan inilah salah satu titik lemah yang saya rasakan dan sadari selama 3 tahun bergelut di geofisika. Keterpaksaan adalah kata yang tepat untuk mewakili kondisi saat itu, dimana saya pada akhirnya harus mengatakan iya, pertanda setuju, yang berarti saya bersedia menemani mereka belajar.
Tak ada persiapan yang istimewa. Saya baca bukunya malam hari, saya ringkas, saya ceritakan ringkasan saya itu bersamaan ketika kami menjawab soal-soal yang pernah muncul. Saya perlihatkan dihadapan mereka batu-batu koleksi saya yang selama ini tersebar di halaman rumput depan rumah. Thats all. Hanya itu. Lalu mereka pergi ke Bandung berbarengan dengan do'a yang berangkat ke langit memohon sentuhan keberkahan-Nya. Saya lepas mereka bagaikan melepas tiga panah api dari bentangan tali busur yang ditarik oleh jemari kecil dan kurus yang tidak biasa menggenggam kekalahan.
Alhamdulillah. Dengan izin Allah, cahaya-cahaya mereka menerangi langit Jawa Barat.
Jangan katakan saya dalangnya. Mari kita maknai ini sebagai sentuhan keberkahan dari sang Pencipta. Semoga demikianlah adanya. Amiin.
--(20080715)--
Motor Doktor
Minggu lalu saya bertemu kawan lama di halaman pemda Cibinong. Dia cerita kalau saat ini dia telah menjadi caleg DPRD Kab. Bogor. Alhamdulillah.. Hebat! Sebentar lagi sahabat saya ini insya Allah akan menyusul guru yang telah lebih dulu duduk di parlemen mengurus urusan rakyat banyak. Hidup memang tidak datar.
Tiba-tiba dia nanya, "kemari naik apa?"
"Naik motor", jawab saya ringan tanpa beban.
Dia terheran-heran, "kok ngga bawa mobil? Doktor harusnya bawa mobil dong"
"He..he..he.., saya gak punya mobil. Lagipula, kata siapa Doktor harus bawa mobil?", saya timpali sambil ketawa. Senyum simpul menghiasi wajahnya, walaupun raut muka keheranannya tetap tidak bisa hilang. Setelah itu obrolan berlanjut seputar nostalgia era 90-an hingga isu-isu sospol terkini, dinamika internal dan penyikapan masalah-masalah rakyat.
Waktu berjalan begitu cepat. Tahu-tahu kami sudah masuk ke halaman parkir, mau ngambil motor masing-masing. Dia juga naik motor rupanya. "Motornya yang mana?", tanyanya penasaran. "Itu.." sambil telunjuk saya menunjuk kendaraan pribadi saya sendiri yang berada kira-kira hanya 30 meter dari posisi saya berdiri. "Yang benar aja?", dia tambah heran. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, "Ini orang kenapa sih? Apanya yang salah?". Akhirnya saya buka kunci garpu dan menyalakan motor. Lalu kami pergi beriringan. Dia ada di depan, saya mengikuti dari belakang. Perhatian saya tertuju ke motor miliknya. Oo.. pantes aja..., motor yang dia naikin harganya sekitar Rp 17jt, sementara motor saya paling cuma Rp 10jt-an. Kontras banget!
Lalu kami pergi beriringan mencari masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur. Begitu mendapatkan masjid, masuklah kami ke halaman parkir motor. Seperti biasa, di tempat yang masih asing, saya selalu memasang kunci garpu roda sebagai pengaman motor utama. Dia tidak memasang garpu, tapi sempat saya melihat dia menggeser saklar rahasia yang tersembunyi di bawah jok tempat duduknya. Sambil melirik ke saya, dia meledek, "motor kayak gitu mah ngga bakal diincer maling". Seketika tawa saya meledak, "ha..ha..ha.., pokoknya yang penting udah dikunci, emang kenapa sih?".
Itulah cerita singkat yang punya kesan tersendiri buat saya. Saya bersyukur masih punya sahabat yang punya perhatian sama kendaraan tunggangan saya. Itu memang motor yang harga barunya paling murah. Bahkan itulah motor termurah dari sejumlah pilihan harga motor di dealer ketika saya beli cash pada Oktober 2006. Dan dimatanya, motor pilihan saya itu telah menodai gelar Doktor yang telah saya raih di usia ke 32 tahun.
Saya tersenyum. Saya memang bukan orang yang banyak harta. Tak ada kesan kemewahan dari apa yang saya pakai. Baju, kemeja, celana, ikat pinggang, sepatu, sandal, bahkan parfum, tidak ada yang istimewa. Sebagian besar tak lebih dari koleksi lama. Ikat pinggang sudah 6 tahun, tetap setia melingkar dipinggang. Celana panjang yang termuda, sudah hampir 4 tahun usianya. Sepatu sendal telah menemani kemana-mana selama 6 tahun. Sepatu apalagi, sudah 7 tahun lebih. Begitulah.. semuanya adalah barang-barang yang tidak ber-merk.
Akhirnya, selesai sholat, obrolan ringan masih berlanjut. Dia bilang kalau dirinya punya murid private. Katanya, suatu ketika muridnya, yang berasal dari dari keluarga menengah atas itu pernah bilang, "saya ingin seperti pa supri". Saya kaget. Bagaimana dia bisa kenal saya? Ternyata muridnya dia adalah murid saya di sekolah. Namun, saya tak menemukan alasan yang masuk akal, kenapa muridnya tiba-tiba mengeluarkan pernyataan seperti itu. Saya berdiri keheranan.
Tiba-tiba saya jadi teringat sms yang pernah ditulis oleh teman satu sekolah muridnya kawan saya itu, yang juga dari keluarga kaya. Isi sms itu adalah "Wawancara kemarin sungguh mengesankan! Wah, wah, wah trima kasih byk pak supri". Memang, seminggu yang lalu saya baru saja membantu mereka menyelesaikan tugas/PR bahasa indonesia. Mereka ditugaskan mewawancarai seseorang. Mereka memilih saya untuk diwawancarai. Saya tak menduga kalau wawancara yang biasa-biasa saja itu ternyata begitu berkesan di hati mereka. Alhamdulillah. Tapi saya tetap heran. Kenapa ya? Apanya yg membuat berkesan?
Keheranan saya tak berhenti sampai disitu, tiga hari yang lalu, saya berbincang-bincang dengan seorang mahasiswi tentang pilihan peminatan-peminatan yang tersedia di Departemen Fisika. Tanpa diduga, tiba-tiba dia berkata, "Sekarang saya sudah dapat feel-nya! Sekarang saya menganggap pa supri sebagai orang tua saya di kampus. Kalau ada apa-apa, saya ingin ngadu ke pa supri". Saya terhenyak keheranan. Yang saya tahu, dia juga berasal dari keluarga sangat mampu.
Hidup ini memang tidak datar. Disaat sahabat saya begitu prihatin melihat aksesoris yang saya kenakan, disaat yang lain ada orang-orang, yang terlahir dari keluarga mampu, begitu respect dengan apa-apa yang telah saya berikan kepada mereka. Mungkin keberadaan saya bisa melengkapi apa-apa yang belum mereka raih dan miliki. Semoga itu bermanfaat.
--(20080513)--
Ember dan cangkir
Profesi dosen tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Apa bedanya dengan guru? Hampir sama persis, kecuali pada sisi kewenangan menentukan batas-batas materi pelajaran.
Kalau guru, batas-batas materi pelajaran telah ditentukan dengan pasti dan kaku oleh Depdiknas. Semua materi pelajaran akan diuji ketika Ujian Akhir Nasional. Tanpa melihat kemampuan dan daya serap peserta didik, seorang guru harus menurunkan semua pelajaran dari A sampai Z.
Berbeda dengan dosen. Dia punya kewenangan lebih luas untuk menentukan batas-batas materi pelajaran. Dosen, punya hak untuk menghentikan kuliah hanya sampai Bab 3, walaupun harusnya pelajaran itu terdiri dari 10 bab. Kontrol dari Fakultas, Universitas ataupun Depdiknas tidak mampu menembus wilayah kewenangan dosen di daerah ini.
Oleh karenanya, tingkat idealisme dosen menjadi satu-satunya jaminan apakah ia akan menurunkan seluruh ilmunya atau hanya sebagian. Walaupun demikian, kemampuan daya serap pelajaran pada mahasiswa juga menjadi bahan pertimbangan apakah sang dosen akan menurunkan sebagian besar ilmunya atau cuma sebagian kecil saja.
Ibarat tempayan, ember ataupun cangkir. Ada yang besar dan ada kecil. Tempayan besar bisa menampung air lebih banyak. Cangkir kecil hanya bisa diisi air secukupnya. Adalah suatu pekerjaan yang sia-sia, menuangkan se-ember air ke dalam sebuah cangkir.
--(20080313)--
Mau makan dimana?
Sehabis diskusi tentang mikrokontroller H8 bersama beberapa mahasiswa, saya mengajak mereka untuk istirahat makan siang. Pertanyaan yang muncul seketika adalah: mau makan dimana? Terserah, kata saya. Di FKM boleh, di kantin MIPA juga boleh. Salah satu dari mereka menimpali, "Kalau di FKM kejauhan, kalau di kantin MIPA belakang Kimia menunya kurang bervariasi". "Nah.. ya udah di belakang Biologi aja, ada ayam bakar, ada sate ayam ada, pokoknya banyak deh", balas yang lain. Mendengar dialog itu, saya membatin dalam hati, "Terserah kita mau makan dimana, siang ini bisa dapat makanan aja saya sudah bersyukur".
--(20071208)--
Anak Tangga Fasilkom UI
Setiap hari selasa dan kamis saya mendapat tugas mengajar di Fasilkom-UI. Ruang kelas berada di lantai tiga. Seperti biasa, dari area parkir ada saja beberapa mahasiswa/i yang berjalan sama-ama menuju ruang kuliah masing-masing di lantai atas. Hal yang selalu terjadi adalah saya dan mereka pasti berpisah di pintu masuk lantai dasar. Mereka masih tetap beriringan menuju pintu lift, sementara saya pasti selalu sendirian menuju anak tangga. Ya.. saya lebih suka naik anak tangga dibandingkan lift.
Ketika ada ujian tengah semester, ruang ujian dipindah ke lantai paling atas, yaitu lantai enam. Itu sama sekali tak mengubah kebiasaan saya. Saya tetap mendaki hingga ke lantai enam. Dan masih seperti biasa, aturan main harus dijalankan dengan konsisten, setiap langkah harus melompati dua anak tangga sekaligus. Jantung terasa berdetak lebih cepat tapi dalam batas yang normal. Peluh meleleh di kening dan ketiak yang tak lain adalah mekanisme dari dalam tubuh untuk menyeimbangkan kenaikan body-temperature , nafas memburu tapi tidak tersengal-sengal, saya yakin paru-paru saya masih bisa terisi udara hingga diatas 87% sebagaimana hasil medical chek-up terakhir di Kyudai Byouin, Fukuoka, Jepang. Saya tak merasakan gangguan putaran sambungan tulang tibial plato dilutut kanan yang pernah mengalami depresi akibat kecelakaan akhir tahun 2005. Tak ada hambatan sama sekali dari berat badan yg telah turun 5 kg dan masih diupayakan untuk turun lagi hingga mencapai berat badan ideal. Sampailah di lantai enam.. Everything is OK.
Begitu ujian usai lagi-lagi saya ayunkan kaki menuju anak tangga. Anita, asisten saya yang menemani mengawasi ujian langsung bertanya keheranan, "kenapa lewat sini pak?". "Saya biasa lewat sini, silakan kalau Anita mau naik lift", jawab saya singkat. "Lho emangnya tadi Bapak naik tangga juga untuk kemari?" tanya Anita penasaran. "iya, bahkan, setiap kali mendaki, saya selalu melompati dua anak tangga sekaligus". Dalam hati saya berkata, "ini jauh lebih ringan daripada mendaki gunung merapi hingga ketinggian di atas 2500 meter saat saya kirim sms untuk ngasih kabar saya ngga bisa ngajar"--(20071107)--
Be Careful..
Be careful with your thought, because it will become your words
Be careful with your words, because it will become your action
Be careful with your action, because it will become your habit
Be careful with your habit, because it will become your destiny
--(20070823)--
Ketekunan
Ada berbagai cara untuk mencapai sukses, mulai dari cara yang halus, bersih, kotor, curang hingga kasar. Ketekunan adalah cara yang paling bersih dan paling terpercaya mengantarkan seseorang menuju cita-cita-nya. Adapun panjang dan pendeknya waktu keberhasilan ditentukan oleh kemampuan orang tersebut untuk memanfaatkan peluang akselerasi pada momentum yang tepat.
--(20070724)--
Saya masih muda
Sabtu siang pukul sebelasan saya memasuki area parkir sepeda motor untuk memarkirkan sepeda motor. Tak ada space kosong, saya bingung juga mau diparkir dimana. Maklum, sudah 3 tahun lebih tidak ke UI Salemba jadi belum tahu situasi terkini. Akhirnya seorang satpam memberi bantuan. "Taruh disebelah sana saja Mas, tapi posisinya harus parallel sama jalan", katanya memberikan instruksi. Motor saya bawa ke posisi yg ditunjukan, sementara satpam tadi menunjukkan jalannya. Lalu saya bertanya, "Kenapa hari sabtu begini parkiran bisa penuh? Lagi ada acara apa?" Dia menyahut, "Ya macam-macam, ada yang lagi seminar, ada yang lagi acara pengukuhan, ada yang kuliah ada juga yang sidang. Ngomong-ngomong Mas mau kuliah apa mau sidang?" Mendapat pertanyaan begitu, mulanya saya heran, karena saya sebetulnya "terpaksa" ke Salemba untuk menguji sidang mahasiswa master. Saya tatap satpam itu sambil berkata dengan nada keheranan, "Pak…saya kesini bukan untuk kuliah, juga bukan untuk maju sidang. Saya kesini untuk menguji sidang mahasiswa master (S2) Fisika." Rupanya dia sedikit kaget mendengar jawaban saya, sikapnya langsung berubah menjadi lebih 'sopan'. "Ooo..maaf Pak, saya kira Bapak masih mahasiswa".
Analisis:
Ada 2 kata sapa yang telah diucapkan satpam itu, yaitu Mas dan Pak. Kata 'Mas' keluar ketika dia baru melihat saya yang sedang mencari tempat memarkirkan motor. Sedangkan kata 'Pak' keluar setelah dia tahu kalau saya adalah salah satu penguji mahasiswa S2. Hipotesis saya adalah dia menyapa dengan kata 'Mas' karena melihat tampilan saya yang masih muda dan pantesnya jadi mahasiswa. Sementara kata sapa 'Pak' dipakai manakala dia sadar bahwa saya adalah seorang penguji mahasiswa S2. Minimal dia mengira bahwa saya adalah seorang yang berprofesi sebagai dosen. Jadi, kata 'Pak' sebenarnya berkorelasi dengan profesi. Sedangkan kata 'Mas' berkorelasi dengan usia yang mungkin dia menganggap saya masih muda.
Kesimpulannya, kejadian ini membuktikan bahwa kesan pertama terhadap seseorang dibangun dari tampilan luar orang tersebut. Dan kesan tersebut sangat mungkin berubah ketika terjadi interaksi walaupun hanya sebentar dan singkat. Kesan pertama rasanya jauh lebih obyektif, apa adanya dan jujur walaupun bisa juga kesan pertama itu membuat orang salah persepsi. Seperti satpam itu, yang menganggap saya masih muda, padahal sudah kepala tiga.--(20070528)--
Ngga ada yang aneh
Setidaknya itu menurut saya. Bagi seorang dosen, ngobrol dan dikelilingi mahasiswa bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi kalau dosen ngobrol sama para pembantu hampir setiap pagi, mungkin ini rada jarang terjadi. Walaupun itu juga (mestinya) tidak aneh.
Ya.. hampir setiap pagi, mulai sekitar pukul 06:15 wib saya terbiasa mengajak kedua anak saya berjalan kaki keliling RT. Anak yang paling kecil saya bawa dengan kereta bayi. Pada jam segitu, saya sering berpapasan dengan para pembantu dan selalu saya lemparkan senyum walaupun saya tak kenal mereka. Tentunya senyuman dalam konotasi dan maksud positif. Beberapa di antaranya terlihat sedang menyapu halaman dan mengepel lantai. Tapi ada juga yang pada jam segitu sudah menjemur pakaian dan bahkan nyuapin anak majikannya dengan gendongan kain. Ya.. begitulah most of them adalah para pembantu. Saya hampir tak pernah ketemu sama ibu-ibu tetangga selaku majikan, apalagi bapak-bapak-nya pada jam segitu.
Taman bermain adalah rute akhir jalan-jalan pagi. Lagi-lagi disana sudah ada beberapa pembantu yang sedang menemani anak majikan yang sedang main sambil sesekali nyuapin nasi/bubur ke mulut anak-anak itu. Dan terjadilah obrolan-obrolan ringan sehingga kami saling kenal. Walaupun begitu, ritme obrolan masih tetap lambat dan terasa kaku. Mungkin mereka terlalu memposisikan saya sama persis dengan majikan mereka. Mungkin mereka merasa aneh melihat saya mendorong kereta bayi sambil ngemong anak saya yang satu lagi. Mungkin mereka pikir harusnya bapak-bapak seusia saya tidak perlu "turun tangan" menemani anak-anak di pagi hari. Mungkin mereka juga heran ketika melihat saya membawa semangkuk nasi uduk lalu menyuapi anak saya sebagaimana mereka menyuapi anak majikan mereka. Di waktu lain para pembantu itu sepertinya juga heran mendapati saya sedang menjemur pakaian dan mengepel lantai serta sesekali membersihkan selokan depan rumah atau nyabutin rumput liar sama persis dengan apa-apa yang biasa mereka lakukan.
Semua itu bukan kemungkinan yang dibuat-buat. Terus-terang pada awalnya saya tidak tahu kalau aktifitas saya dipagi hari menjadi bahan keheranan para pembantu dan tetangga. Sampai akhirnya ada bisik-bisik tetangga yang terdengar juga oleh telinga saya.
Jujur saja, saya ini juga pembantu. Cuma bedanya, mereka membantu majikannya, sementara saya membantu istri saya. --(20070423)--
Senyum
Rasanya kita semua sepakat bahwa wajah dengan senyum lebih enak dipandang daripada wajah dengan bentuk mulut yang agak monyong dengan beberapa kerutan di sekitar dagu. Senyum seringkali berbalas senyum. Senyuman seorang dosen ternyata mampu menyingkirkan rasa malu bertanya, bahkan menumbuhkan keberanian para mahasiswa untuk bertanya. Senyuman kakak senior menghadirkan nuansa keakraban bagi adik kelas. Senyuman staf dan karyawan menambah rasa kekeluargaan di dalam gedung kuliah. Tersenyum lebih banyak positifnya. Tersenyumlah walaupun hanya basa basi --(20070327)--
Kenangan Buruk
Seorang mahasiswa yang baru saja jadi sarjana ditanya, "Momen apakah yang paling berkesan saat anda kuliah di kampus ini?" Kurang dari 3 detik dia segera menjawab, "Dulu, waktu tingkat 2, kepala saya pernah dilempar penghapus papan tulis oleh salah seorang dosen, hanya gara-gara saya bertanya yang mungkin pertanyaan itu terlalu sederhana atau terlalu bodoh untuk ditanyakan di akhir perkuliahan, padahal dosen itu sudah menjelaskan panjang lebar dari sejak kuliah dimulai. Selanjutnya saya dicela dan dipermalukan di depan teman-teman saya". Itu-lah salah satu potret buruk suasana belajar di bangku kuliah -yang ternyata- terekam paling kuat dalam ingatan mahasiswa yang baru lulus tadi. Tak disangka, selama empat tahun kuliah, yang sangat ia kenang adalah kenangan buruk. Memang, dosen itu mestinya lebih pandai dari mahasiswanya, harus punya gelar minimum S2, harus pernah sekolah diluar negeri, harus punya setumpuk karya ilmiah. Namun semua itu harus dihiasi oleh kemampuan verbal dalam transfer knowledge serta rasa simpati dan empaty yang membuatnya bisa memandang mahasiswa biasa sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kekurang, apa adanya. --(20070223)--
Fokus dan Tekun
Itu modal utama untuk bisa lulus dengan kualitas tinggi. Banyak mahasiswa tingkat akhir yang baru sadar kalau dia sudah berada diujung masa studinya. Tinggal tersisa satu semester lagi untuk penelitian tugas akhir. Sayangnya, tak semua mahasiswa bisa fokus dan tekun menyelesaikan-nya. Mereka perlu stimulus dan atmosfir riset yang bisa memicu serta memacu mereka agar terfokus pada penyelesaian tugas akhir-nya. Masalah ini tidak cukup dijawab hanya dengan menyediakan jadwal waktu konsultasi bagi mereka. Satu pendekatan yang paling efektif adalah dengan menghimpun mereka kedalam sebuah grup riset, lalu mengajak mereka untuk berdiskusi setiap pekan membahas progress masing-masing penelitian. Dengan begitu hasil riset yang berkualitas lebih bisa dijamin akan tercapai. --(20070202)--
Mahasiswa Normal
Tidak pernah bolos kuliah, datang ke kelas tepat waktu, duduk dengan tenang menyimak perkuliahan, bertanya/diskusi bila diberi kesempatan, mengerjakan tugas/PR tanpa menyalin punya temannya lalu dikirim sesuai deadline, tidak menyontek ketika mengikuti ujian, semuanya itu adalah perilaku mahasiswa yang biasa-biasa saja. Sama sekali tak ada sesuatu yang luar biasa. Akan menjadi luar biasa bila ia juga seorang aktivis. Tapi bukan karena status aktivis-nya yang membuat ia layak menyandang sebutan luar biasa. Melainkan lebih karena kecermatannya membagi waktu sehingga masing-masing aktifitas bisa terlaksana dengan sempurna tanpa ada satupun yang dikorbankan.--(20070126)--
Menjaga Proses
IP tinggi bukanlah mutlak milik mahasiswa pintar. Karena ada proses belajar yang kalau itu ditekuni bisa
mengantarkan mahasiswa untuk meraih IP tinggi. Anggaplah ada mahasiswa yang benar-benar blank ketika masuk
ruang kuliah di pertemuan pertama. Bila dia menyimak isi perkuliahan, maka dia insya Allah memperoleh 10% informasi materi
perkuliahan. Kalau dia mempelajari kembali apa yang diterimanya pada malam hari sebelum tidur, maka pemahamannya meningkat menjadi 15%.
Jika dia mau berlatih dengan contoh-contoh soal dan PR tanpa harus menyalin dari punya teman-nya, pemahamannya bisa naik jadi 30%.
Berikutnya kalau dia aktif bertanya/diskusi kepada dosen dan teman-temannya, maka praktis pemahamannya akan menjadi 50%.
Bila dia rajin mencari info tambahan di internet, pemahamannya bakal naik menjadi 70%. Dan akhirnya, kalau dia mau berlatih
mengerjakan 15 soal-soal ujian semester/tahun sebelumnya, maka insya Allah pemahaman dia akan mencapai 85%. Dengan modal itulah,
diperkirakan dia akan berhasil melalui Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Jika proses ini berjalan mulus
pada keseluruhan mata kuliah, bukan sesuatu yang mengherankan bila dia memperoleh IPK tinggi.--(20070119)--

